suciwomantri

hidup ini singkat (let's be friend)

Tugas bikin cerpen (check it out)

Super Lowman

Tak kusangka penguasa malam berangsur pudar dari tempat peraduannya, perlahan namun pasti matahari akan bangkit dan duduk di singgasananya. Heningan pagi menyaingi getaran jiwa sang ksatria pagi. Kring.. kring.. jam weker merengek bercampur dengan suara ngorokku yang terdengar merdu bak lagu klasik yang tenggelam oleh ganasnya zaman tak berprikemanusiaan, digantikan dengan lagu lagu yang bisa membuatku tidur lebih lama itu. Ku kumpulkan sisa sisa jiwa berserak yang telah tercecer bersama mimpi mimpi indah melambungkan jiwa tadi malam. Abstrak dan romantis! Mataku menerobos dinding dinding kehidupan sampai jauh aku berlari mengelendingi alam pikiranku, aku kembali pada bayangan mimpi mimpi indah itu. Yaa, dia sang bidadari surga yang terdampar dihatiku. Kucoba tuk hilangkan kabut kabut sorot tajam matanya dalam pikiran yang tak singkron dengan kendali jiwa yang terseok seok meninggalkan kuatnya magnet relung jiwaku yang telah terpahat oleh nama seorang gadis keji yang berani mencuri hatiku tanpa izin.

Jiwa telah menyatu sempurna dalam raga, ku hentakkan langkah menuju kehidupan nyata. Kubuka aroma segar menenangkan jiwa menuju genangan air yang menari nari hendak menenggelamkanku, yaa itulah kamar mandiku. Ornamen ornamen kesederhanaan sebagai khalifah penjelajah ruang dan waktu tergurat jelas dalam lintas sudut kamar mandi ini. Sebagai anak kost, tak terlihat onggokan emas disana, hanya sebatang sikat gigi, sabun, shampoo dan sehelai handuk berpori pori mulai membesar yang membiarkan sinar matahari menerobos kulitku lewat celahnya. Aku memecah kesunyian yang tak bertuan ini, lirik lirik lagu gleen fredly yang bisa membuat diriku berkecamuk dengan kegalauan aku nyanyikan, namun seolah seisi kamar mandi jungkir balik menertawakan suara sang pahlawan kesiangan pemburu ilmu seperti aku ini. Aku teringat pada sesosok lelaki muda 3 tahun lalu yang mengatakan suaraku saat bernyanyi seperti nenek nenek yang sedang sakaratul maut. Gemercik gemerik air itu aku tumpahkan ke badanku, tak kuduga gigiku menyatu setiap detik, aku kedinginan! Pikiranku pun melambung jauh memecah atap atap kesadaran, namun aku sadar! Aku sadar! Muka garang bak kerikil neraka yang dijatuhkan kedunia dengan kumis lebat berjejer bagai senjata yang siap mengkeker mangsanya hadir didalam anak pikiranku, dunia kecilku hancur. Memori memori berdebu itu tersapu  oleh angin insting yang kuat, aku merasa ada yang hilang dariku, yaitu kemerdekaan jiwa. Namun tampaknya malaikat hadir dalam celah celah pengharapanku, aku tertawa kecil bersama setan setan di dalam hatiku.

Ku jejali jalanan dengan motorku yang berwarna hitam, aku berkutat dengan jejalan motor lain, mobil , dan angkot yang makin menambah identitas kemerosotan Negara dengan deburan asap yang memudarkan langit biru bersama gempuran knalpot yang berteriak teriak memerahi jalanan, bumi ini semakin sekarat. Aku melaju bak Valentino Rosi yang memecah jalan di lap lap terakhir menuju kemenangan. Namun hampir saja, malaikat pencabut nyawa menulis namaku dalam daftar pencarian orang, tapi untunglah dewi fortuna melarangnya. Tak jadi aku terobos lampu merah itu, mataku tersamarkan dengan asap yang menggerogoti udara pagi ini. Bunyi klakson di belakang sana seolah mentolol tololkanku, namun aku tak peduli. Kurasa inilah jiwa muda yang mengalir dalam darahku, namun mereka seharusnya mengerti tak mungkin aku sekonyong konyong dengan sengaja ingin menerobos lampu merah itu dan menjemput takdirku secepat ini.

Makin lama makin nyata bentuk gedung tempat bernaungku, kuparkirkan motorku  bersama deretan motor lainnya, yang telah mengungsi sebelum aku. Deretan motor ini membuat  aku merasa seperti gorengan yang batu diangkat dari penggorengannya, panas dan berminyak, atau seperti ayam yang baru saja di ‘geprek’ di meja dapur. Aku harus pandai meliuk liukkan tubuhku di sela sela motor ini. Ku hentakkan kakiku diatas tanah yang masih nyaring bunyinya menyambut kehadiranku. zeep, sekelebat sosok yang tertangkap oleh bola mata menyengat ubun ubun kepalaku, aku merasa gosong dengan keadaan ini. Jantungku seperti copot dari sarangnya, menghancurkannya bagai laksamana mengamuk. Andai saja ada titisan malaikat dapat sampaikan berlusin lusin salamku padanya. Kilasan wajah beberapa detik yang lalu membuatku merasa tak menginjak bumi berjam jam, kusaksikan saat wanita yang ada di dalam mimpiku tadi malam menjadi nyata, berjalan dan tertawa bersama teman temannya membuatku seperti orang yang tak waras, mulutku ternganga bagai pintu yang tak berhandle lagi. Aku memutuskan untuk kabur dari pusaran ini. Sampai di kelasku, aku meletakkan tasku dan bersiap menengadahkan tangan kepada Tuhan, dan mulai melantunkan butir butir syair belenggu jiwa yang akan kuhadapi sebentar lagi, ide awalku yang ingin membuat deretan pencerah jiwa aku urungkan, yaitu contekan! Karena aku adalah sosok lelaki tangguh yang bermoral dan cerdas. Aku memiliki ide yang lebih bagus aku tidak usah bersusah susah membuat contekan, menghabiskan tinta pena saja. Lebih baik aku contek saja tetes tetes perjuangan temanku dalam menegakkan bendera keberhasilan itu, aha! Cemerlang sekali buah pemikiranku itu. aku merasa kepalaku mengeluarkan tanduk, mukaku berubah menjadi merah dan taring taring gigiku menjadi panjang hingga melubangi bibirku.

Ujian di mulai, dosen itu mengawasi kami dengan sudut bola matanya, dan juga tatapan matanya itu memenjarakan gerakku. Dalam bayanganku tangannya yang kekar seperti Ade Rai 25 tahun yang akan datang itu siap mendarat di mejaku dan merobek robek pengorbananku dengan sepenuh emosi, jika aku tetap saja menjalankan misi yang aku persiapkan ini. Namun bensin dalam otakku sudah berada tepat di garis merahnya, aku berhenti di tengah jalan, oh tidak tepatnya di awal jalan. Alarm tanda bahaya telah berbunyi bunyi seirama dengan nafasku yang saling berlomba memburuku. Dalam imajinasiku Iblis menggodaku dan mengelus ngelus kepalaku mengajakku melewati jalan pintas, namun aku tak menurutinya. Elusan itu berubah, sang iblis mengetok dan memukul kepalaku karena aku tak menurutinya, sepertinya dia menendang kepalaku dengan tendangan bebas yang menciptakan gol sehingga kepalaku mencongak ke bangku temanku, dan aku mencoba mengais ngais data yang bisa kupindahkan ke lembar jawabanku. Atau harapan konyol yang terlintas di batas sudut lain pikiranku. Seperti, angin bertiup sangat kencang dan menerbangkan kertas jawabannya ke atas mejaku, dan dosen itu terbang terbawa pusaran angin, dan aku pun mendapat nilai A.  ah, khayalanku seperti anak kecil yang baru bisa berjalan, terlalu mengada ada.

Kini aku terjerembab dalam kuali permasalahan yang siap menampungku. Karena segala peluh perjuangan tak membuahkan hasil, aku mencoba untuk menggerakkan mesin dalam otakku yang sudah mulai berkarat ini. Ada beberapa soal yang aku jawab yakin, karena materi itu tidak sengaja aku baca kemarin. Selebihnya, ridha Tuhan yang kunanti, berharap Tuhan melihat ketulusan jiwaku dalam bermohon, hehehe. Kubaca surat Al- Fatihah, Alam Nasrah sambil menunjuk nunjuk jawaban yang ada  di kertas soal itu, sesuai dengan makna yang terkadung dalam surat Alam Nasrah yang dikatakan bersama kesulitan itu ada kemudahan, aku seolah menagih janji kepada Tuhan dengan cara yang sedikit memaksa. Rasanya ruangan ini menjelma menjadi sebuah jalan sempit, dan aku ingin berlari ke ujung jalan itu. sinyal do’aku tidak sampai kepada Tuhan, dan juga video video ilmu tak bergerak karena bufferingnya lama, ya kurasa ini karena pulsa modem yang tak ku isi- isi dalam otakku.

Ah, akhirnya berakhir juga lingkaran setan ini. Kini kutenteng badaku yang letih ini menuju tempat kost. Sesampainya di tempat kost kujajaki jejeran tangga tangga ini. Di depan kamarku, ada hal yang berbeda, namun aku tak sadar apa yang terjadi. Langsung kubenamkan badanku ke kasur yang empuk ini. Tiba tiba mataku menyalak, “loh kok pintu kebuka ya tadi? Ga aku kunci apa?” pertanyaan itu memantul mantul di kepalaku, kutatap seisi sudut kamar. Dan mataku terpaku pada rak sepatu, kuamati dengan saksama. Sepertinya ada yang kurang. Aaaa.. sepatuku raib. Aku berlari ke rak sepatu itu, 3 pasang sepatuku tak bertengger di tempatnya lagi. Sepatu pantofel, nike, dan adidas ku digondol maling! Dan yang lebih menyedihkanku lagi, kaos kaki yang terselip di dalam sepatu itu diabaikan dari modus penjarahan ini. kurasa bau kaos kaki yang tidak dicuci seminggu itu masih enak dicium. Aku larut dalam kubah kebingungan, namun ya sudahlah mungkin ini peringatan karena kecerobohanku yang tidak mengunci pintu.

Tinggalkan komentar »